13/09/13

AKU



Cerita ini hanya fiktif looo.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Besar hatiku melihat kenyataan ini. Yap, disaat aku berharap dan memimpi. semua datang dan pergi.
apakah ini benar-benar terjadi? kenyataan? atau hanya mimpi :D hahahaha

Malam ini aku menulis semua ingatan hari ini. kenangan hari itu. mimpi dan harapan ku. atau juga kebencianku.

mereka tampak akrab, berbicara berdua.
aku terdiam.
mereka tampak intim. bercanda berdua.
aku terpaku.
mereka keliatan mesra, bahagia berdua.
aku terpojok.

Aku sendiri, diam, merangkai, merangkai? yap, merangkai ingatan, merangkai kenangan, merangkai sakit.



Kuingat saat dia datang.
Datang? ya, datang, wanita itu.
Wanita yang ajukan asa-nya padaku. Wanita yang memaksaku cinta.
Cinta? ya, cinta kepadanya.

Bukankah cinta tak hidup dengan paksaan? bukankah cinta itu tulus? bukankah cinta itu indah? indah karena hadir tanpa paksaan, indah karena ketulusan.
Bukankah cinta itu hidup? ia tumbuh, semakin besar, menjadi pohon. Pohon yang cukup untuk menaungi cinta itu.
Bagaimana cintamu tumbuh jika dipaksa?

Tapi kenapa ia datang? kenapa? apa setelah kebaikanku itu? atau ada hal lain?
aku tak tahu, benar-benar tak tahu,

***

"Kamu PHP-in aku", ujarnya.

aku diam, aku bingung, aku gagap.
PHP? aku bahkan tak tahu artinya? kuharap kuboleh menanyakan kepadanya.
Tapi ku malu. Malu? iya, malu karena tidak tahu PHP.

"PHP? PHP apa?", wajah ku datar.

"Brengsek, kamu brengsek, kamu cowok jahat", air matanya jatuh.

Aduh!  kenapa dia menangis.
Aku tidak mampu melihat air mata wanita.
Ibuku terkadang menangis dan hatiku berontak setiap melihatnya menangis.
Sejak itu aku berjanji, tidak akan membuat wanita menangis.
Tapi kali ini kumenyerah dari janji ku,

"Kamu kenapa?", wajahku mulai simpati. Simpati yang datar.

"Sikapmu buat ku berharap, berharap rasa sayang, sayang yang indah. Ucapanmu selalu buat hatiku tenang, candamu buat tawaku renyah. Sangat renyah hingga ku mampu makan tawaku sendiri", ujarnya tertahan.

Lucu! pikiriku dalam hati.
Lucu kalau sampai dia bisa memakan tawanya sendiri.
Perlahan simpatiku melihatnya menangis memudar berganti senyum tawa yang cukup jahat.

"Aku senang saat kamu ajak ke banda bakali, aku bahagia waktu kamu ajak nyari buku ke Gramed, aku menanti-nanti untuk kamu ajak jalan. Jalan malam sampai larut malam, malam sekali sampai kos ku tutup. Aku senang walau kamu ajak ke kos mu, aku bahagia waktu kamu ajak, aku rela", ucapnya pelan.

"Tapi kamu yang merayuku",

"Kenapa kamu mau?"

"Ah, aneh jika lelaki tidak mau. Lagipula kita tidak ngapa-ngapain kan?"

"Kamu cium aku!", nada ucapnya meninggi. Agaknya terdengar orang lain, kulihat sekeliling, mereka melihatku.

"Cuma cium. Ya ciuman pertamaku. Dan aku tidak sampai menodai kamu. Aku ingat dosa disaat rayumu atas nafsuku"

"Jadi kamu tidak cinta aku?"

"Maksudmu?"

"Aku ingin kejelasan"

"Kejelasan apa?"

"Jangan bodoh dong. Kamu pintar, kamu cerdas, kamu pasti mengerti maksudku"

"Aku cuma anggap kamu teman"

"Brengsek kamu...",
Plaakk, ia marah, pipiku merah, orang-orang sumringah. Mereka pikir aku memalukan.

"Desi, kamu mau kemana?"

"Mau mati", ucapnya sambil tetap melangkah. Ia menangis.

Sejak itu kami tidak pernah berbicara lagi. Aku diam, malu, bersalah dan marah. Marah terhadap kepengecutanku, bahkan aku pengecut untuk mengucap maaf.

***

Dua bulan kemudian, aku lulus. Toga hitam hinggap di kepalaku. Aku bersiap menyongsong masa depan, cita-cita, dan kehidupan baru. Pekerjaan yang sudah pasti telah hadir menantiku masuk minggu depan. Cita-citaku menjadi seorang akuntan sudah tercapai.

Aku memutuskan mandiri, lepas dari rumah kecilku. Rumah tempat si Rudi kecil tumbuh dan menjadi pintar. Namun sendiri itu menyedihkan, aku harus memikirkan makanku sendiri. Bajuku yang tertumpuk, ku antar ke laundry, terkadang kucuci sendiri. Paling parah saat pakaian kotor kupakai kembali.

Setiap sabtu, aku pulang ke rumah kecilku. Tempat ayah dan ibu menghabiskan tuanya. Adikku sudah merantau kuliah ke Jawa, kakakku diboyong suaminya ke Riau. Dan aku melanjutkan hidup di Padang.
Namun di rumah pun aku tetap dijejali banyak tanya.

"Bilo nikah Rud?", inilah mantra ajaib ibuku saat kami berdua. Tanya pendek ini buatku berpikir berulang-ulang mengenai kehidupanku, keluh-kesahku.

"Bang, masih ketek. Baru 25."

"Uni Dian umur 20nyo menikah"

"Uni perempuan tu iyo"

"Suaminya umur 25,"ucap ibuku sejenak terhenti.
"Rudi alah mapan, gagah, sehat lo. Masak ndak ado wanita yang mau?",

Alun ado jodoh lai ma"

"Ndak dicari mana ketemu", Ujar ibuku, agaknya ia kesal. melihat diriku yang selalu egois.
Ia melangkah ke dapur menyiapkan makan siang.
Aku terdiam, bermenung menatap langit biru, awan yang menggantung, dan terkadang elang yang melintas. Memikirkan kembali tanya ibu, apakah sudah waktunya bagiku mencari pendamping?

Hanya sehari waktuku dirumah. Hari Minggu kusiapkan untuk kembali dengan pakaian lengkap yang kucuci dirumah. Dan Senin kulalui dengan kehidupan "normal", yap, normal seperti orang-orang kebanyakan. Bangun pagi, mandi, ibadah, sarapan, berangkat kerja, istirahat siang, ibadah lagi, pulang kerja, menyempatkan makan diluar bersama rekan-rekan.
Dan pulang. Pulang ke kontrakanku, sendiri, tidur, dan begitu setiap harinya.

Terkadang kupikir hidupku membosankan. Tapi selalu kuingat bahwa ini yang dulu kucita-citakan. Cita-cita bahwa hidupku akan kesepian

Sampai suatu ketika kami berjumpa lagi.

Hari itu aku bertemu klien. Berbincang mengenai biaya auditing.
Klien memilih tempat. Memang begitu aturannya.
Mereka bisa memilih cafe, hotel, atau bahkan perpustakaan untuk berbisnis.
Yang penting nyaman dan tenang.

Klienku kali ini seorang direktur perusahaan tambang. Pak Brata namanya.
Ia memilih bernegosiasi di Cafe Audi. Pukul 10.00 esok hari kami sepakakti.

Kebiasaanku adalah datang lebih cepat. Jangan sampai membuat klien menunggu. Satu nilai plus yang dipuji bos padaku.
Aku datang pukul 09.30. Setengah jam waktu yang cukup untuk mendalami berkas-berkas yang kubawa.

Setengah jam kemudian, ia datang. Tampil dengan setelan jas mahal dan penampilan yang bersih mengisyaratkan bahwa ia benar-benar kalangan atas. Seperti bos-bos lain. Ia tidak datang sendiri.
Para klien ini tahu siapa yang akan diajaknya, terkadang mereka memboyong "sekretaris" untuk sekedar menampakan paha dan dada. Menggoda. Dengan harapan tertinggi adalah WTP.
Tapi aku sedikit naif dalam menanggapi godaan itu, selama ini belum ada "sekretaris" yang berhasil menggodaku. Tidak kali ini.

Aku terhenyak, saat wanita itu datang. Desi. Wanita yang pernah menamparku. Wanita yang buatku merah. Wanita yang mencintaiku.
Ia berjalan anggun, dibelakang si bos.

Aku berusaha mengendalikan diri disaat hatiku mulai sakit. Perlahan mereka menuju tempatku.
Duduk di depanku, begitu mesra.
Si bos memegang tangan si wanita. Mempersilakannya duduk. Lalu ia duduk disampingnya.
Kami memulai berbicara. Kami awali dengan basa-basi. Menanyakan kabar, memesan minum, memperkenalkan diri. Tentu saja kami sudah saling kenal.

Entah kenapa negosiasi kami lancar.
Aku tidak terpengaruh kehadirannya.
Kami tidak berkomunikasi.
Hanya aku dan si bos.
Lantas mengapa ia datang?

Menjelang akhir perbincangan.
Si bos berpamitan, Desi pamit, Aku pamit.
Kami berpisah.

Hening.
Aku terdiam.
Mereka berbincang, sesaat setelah berpamitan.
Dan aku mendengar
Sakit.

"Sayang, ayo kita makan malam diluar, kamu g' usah masak", Ucap si bos.
"Eh? padahal aku sudah siapin bahan buat bikin masakan kesukaan kamu", ujar Desi
"G' usah dulu deh, malam ini ultah pernikahan kita. Aku sudah pesan hotel dan siapain acara buat kamu"
"Iya deh sayang, makasih ya", ujar Desi sembari memeluk manja Si Bos.

"Sorry ya mas, saya tidak bilang kalau ini istri saya. Takutnya mas nanti mikir yang aneh-aneh." Ujar Si bos kagetkanku.
"aneh ?"
"Iya lah. Ntar masnya mikir lagi, masak orang tua kayak saya bisa dapat wanita muda cantik. Pasti ada apa-apanya, dan masnya g' konsentrasi waktu negosiasi"
"eh, trus kalau takut kenapa mbak Desi-nya dibawa?"
"Dia yang minta, waktu saya bilang bakal ketemu mas"

Aku semakin bingung, kenapa Desi yang sudah bersuami meminta ikut bertemu?
Mereka mulai menjauh, menghilang didalam kerumunan pengunjung kafe.
Dan aku sendiri bersiap kembali ke kantor.
Aku mulai membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja itu.

Dan satu kertas menyembul dibalik berkas terbawah. Kertas yang berisi dua baris tulisan tangan.

AKU CINTA KAMU. AKU DIPAKSA MENIKAH. AKU DIJODOHKAN.
DAN SEMUA INI SALAH KAMU. KAMU CAMPAKKAN AKU.

4 komentar:

  1. karena kak terlalu mengkhayalkan ceritanya, jadi yg mnurut doni fiktif trasa nyata bgi kak,.. hahaha.. semangat don. klw doni mau ceritanx lebih menggigit lagi,.. tambahkan banyak bumbu n penyedap. biar lebih mantap.. :)

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. hahaha,
      bukan lah mbak, hanya mencoba baik ke semua orang.

      Hapus

ditunggu komentar, kritik, dan saran yang sopannya :)