Gue pikir kesialan itu g' akan mungkin ada. Kalau g' ada kesalahan.
G' mungkin juga muncul tiba-tiba, tanpa ada angin.
Atau tiba-tiba rencana yang udah dirancang sempurna, bakal berantakan
Tapi gue percaya, kesialan hari ini bakal terobati.
Hari ini gue dapetin pengalaman paling mantap, gw g' nyangka kalau duit bakal berpengaruh banget.
hari ini gue bangun pagi banget. gue mulai siap-siap mandi, nyuci, makan, dan pake pakaian ganteng.
gue siapin cucian yang udah seember yang gue tumpuk selama seminggu.
udah gue rendem 2 hari
dan bau-nya juga "menyenangkan"
setengah jam, gue selese-in semua tumpukan benang itu. gue rendem pake pengharum. gue jemur. lalu gue tinggal mandi.
sip, habis mandi dan udah harum, gue pilih baju sama celana yang kira-kira bikin gue nyaman.
sip, udah rapi, udah g' bau lagi, gue siap berangkat.
gue keluarin motor, gue starter, ntu motor nyala.
panasin 5 menit, gue lantas terbang menuju Ganto.
Setibanya gue di Ganto, udah ada beberapa temen yang sibuk nge-cek updetan mereka punya jejaring.
g' gue perhatiin semua, gue tuju seorang teman (cewek).
dan gue bisikin dengan perlahan
"Hei, lo udah siap feature g'?"
"Belum bang, abang udah?"
"sama"
"Ayo kita cari,"
"kemana?"
"Padang teater"
"Dimana tuh?"
"Tempat loak buku."
"Idenya?"
"Bang, sih mau ngangkatin kisah seorang wanita penjual burung"
"Penjual...?! Penjual burung?"
"Jangan ngeres, maksudnya penjual burung hias"
"ooo"
"mau?"
"pikir dulu"
22/09/13
18/09/13
sedikit
tiang bambu tegak kokoh
halangi penyusup yang nak curi hatinya.
namun atasnya kosong terbuka.
tiang bambu dipanjatnya.
ia masuk celingak-celinguk.
mencari hati yang didamba.
harapnya pupus di depan mata.
dibelah kapak si penjaga.
Malangnya.
Ia salah, ia ganggu hati.
hati bukan hatinya.
halangi penyusup yang nak curi hatinya.
namun atasnya kosong terbuka.
tiang bambu dipanjatnya.
ia masuk celingak-celinguk.
mencari hati yang didamba.
harapnya pupus di depan mata.
dibelah kapak si penjaga.
Malangnya.
Ia salah, ia ganggu hati.
hati bukan hatinya.
13/09/13
AKU
Cerita ini hanya fiktif looo.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Besar hatiku melihat kenyataan ini. Yap, disaat aku berharap dan memimpi. semua datang dan pergi.
apakah ini benar-benar terjadi? kenyataan? atau hanya mimpi :D hahahaha
Malam ini aku menulis semua ingatan hari ini. kenangan hari itu. mimpi dan harapan ku. atau juga kebencianku.
mereka tampak akrab, berbicara berdua.
aku terdiam.
mereka tampak intim. bercanda berdua.
aku terpaku.
mereka keliatan mesra, bahagia berdua.
aku terpojok.
Aku sendiri, diam, merangkai, merangkai? yap, merangkai ingatan, merangkai kenangan, merangkai sakit.
03/08/13
senduan dikala sepi.
sunyi, benar-benar sepi.
kicau burung hantarkanku pada lamunan mengenang masa itu. ya, masa-masa bersamamu "kepingan hati"
itu dulu, disaat keraguan belum melanda, disaat ucap masih kubalas, disaat tanya masih ku jawab, disaat hati ini masih memanggil namamu.
diam, benar-benar hening.
aku disini menanti waktu untuk kembali. ya, waktu untuk bersamamu, waktu untuk melihatmu, waktu untuk merasakan sesuatu yang hilang. disaat hati ini dingin, kau menghangatkannya, disaat hati ini marah, senyum-mu meluluhkannya, disaat hati ini bimbang, kau datang tegarkanku.
seketika, khayalku lenyap, bersama dengung pemotong rumput yang libas semua yang ditempuhnya.
aku heran, disaat orang-orang tak ingin rumput itu tinggi, mengapa mereka menanamnya? hanya untuk dipotong? hanya untuk disembelih? jika mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata, "biarkan kami tumbuh, kami tidak merusak apapun, kenapa bukan manusia yang dipotong? mereka merusak apa saja."
memang itu lah takdir,
cinta, kematian, rezeki adalah rahasiaNya, tanpa seorangpun diberi kenyataan bahkan Nabi pun tidak tahu.
hanya tugas kita menjalaninya dengan baik, lakukan peran dengan sesuai, tidak membantah, tidak mengeluh.
karena inilah takdir, ya, takdir disaat kita memang menginginkan yang bukan takdir.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
siapkan dirimu, tekadmu, mimpimu. raih sesuatu yang kau cita-kan dan jangan pedulikan hambatan. terobos dan tantang, itu sikap seorang pahlawan,
LAWAN.
kicau burung hantarkanku pada lamunan mengenang masa itu. ya, masa-masa bersamamu "kepingan hati"
itu dulu, disaat keraguan belum melanda, disaat ucap masih kubalas, disaat tanya masih ku jawab, disaat hati ini masih memanggil namamu.
diam, benar-benar hening.
aku disini menanti waktu untuk kembali. ya, waktu untuk bersamamu, waktu untuk melihatmu, waktu untuk merasakan sesuatu yang hilang. disaat hati ini dingin, kau menghangatkannya, disaat hati ini marah, senyum-mu meluluhkannya, disaat hati ini bimbang, kau datang tegarkanku.
seketika, khayalku lenyap, bersama dengung pemotong rumput yang libas semua yang ditempuhnya.
aku heran, disaat orang-orang tak ingin rumput itu tinggi, mengapa mereka menanamnya? hanya untuk dipotong? hanya untuk disembelih? jika mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata, "biarkan kami tumbuh, kami tidak merusak apapun, kenapa bukan manusia yang dipotong? mereka merusak apa saja."
memang itu lah takdir,
cinta, kematian, rezeki adalah rahasiaNya, tanpa seorangpun diberi kenyataan bahkan Nabi pun tidak tahu.
hanya tugas kita menjalaninya dengan baik, lakukan peran dengan sesuai, tidak membantah, tidak mengeluh.
karena inilah takdir, ya, takdir disaat kita memang menginginkan yang bukan takdir.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
siapkan dirimu, tekadmu, mimpimu. raih sesuatu yang kau cita-kan dan jangan pedulikan hambatan. terobos dan tantang, itu sikap seorang pahlawan,
LAWAN.
Monster
Ah, malam yang panjang. Diantara kesunyiannya kami masih bercerita. Bercerita sesuatu yang tak pernah kubayangkan. banyak keadaan yang tak ku duga sebelumnya. bahwa mereka benar-benar monster. Monster yang hidup di dalam satu tubuh. tubuh seorang pria. dan siap memakan yang menghalanginya.
Mereka adalah hantu yang bersemayam di lubang kecil diantara hati dan pikiran. Kuning ini menandakan kerusakan hati mereka. dan merah itu men"jahati" perasaan mereka. Yah, mereka ini merupakan perwujudan dari ketidak senangan, ketidak puasan, ketidakyakinan, ketidakinginan, dan pemberontakan terhadap sesuatu yang mereka pikir telah rampas hidup mereka, kenangan mereka, keinginan mereka, dan hati kecil mereka. Hingga mereka harus jual kepingan terakhir dari sisa hati yang masih utuh (sisa lainnya dibuang).
Tak ada kesempatan lagi untuk memunculkan sisa "hati" itu,
04/04/13
Sajak Dikit
sendiri menyepi, bagai tiang dalam dinginnya malam.,.,
sedih merana memikir nasib, tapi apa daya, tak didengar sampai marah.,
berhati tapi tak dihargai, inikah cerminan sikap..,
dari mereka yang seharusnya di hormati, dikagumi, di sanjung, tanpa batasn..,
sedih merana memikir nasib, tapi apa daya, tak didengar sampai marah.,
berhati tapi tak dihargai, inikah cerminan sikap..,
dari mereka yang seharusnya di hormati, dikagumi, di sanjung, tanpa batasn..,
Langganan:
Postingan (Atom)
