15/11/13

Lucon

*Syuuuur* (Anggap aja bunyi toilet disiram)
"Ah,, legaaa. Eh? *kaget. Siapa kalian? ngintip saya :poop: ya?"

"G' mas, aku cuma nungguin mas nya selesai :poop:"

-____-'a,     "ada perlu apa?"

"Gini mas, saya mau nanya nih, bolehkan?"

"Nanya apa?" (masang tampang curiga)

"Gimana pendapat mas mengenai kebiasaan lucon saat ini?"

"Lucon? maksud kalian komedi?"

"Ha, iya mas. Sekarang kan banyak jenis lucon, mas bisa jelasin g' beberapa sama pendapat mas tentang jenis tersebut"

"Hmm..(mikir bayaran), yo weis lah. Aku kebetulan habis bikin tulisan ttg lucon mu itu. Mending kamu baca aja. Ntar aku kopiiin di bawah."

"Ok mas. Saya kopi pait aja."

"Pait mbahmu. c>_<"

#cekidot

Lucon nih?


--------------------------------------------------------------------------------------------------------


“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”,

Jargon andalan milik grup lawak Warkop DKI ini mengindikasikan kebebasan untuk tertawa. Manusia mengenal tawa sejak bayi. Walau diawali dengan tangisan, kehidupan bayi didominasi tawa. Beranjak dewasa manusia pun mulai “memilih” hal-hal yang memancing tawa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tertawa itu ungkapan rasa gembira, senang, geli, dan sebagainya dengan mengeluarkan suara (pelan, sedang, atau keras) melalui alat ucap. Untuk menghasilkan suatu tawa harus ada beberapa komponen, yaitu “sesuatu” yang lucu, rasa gembira, respon otak yang baik dan alat ucap yang sehat. Jika salah satu komponen hilang maka tawa yang dihasilkan tidak akan sempurna bahkan bisa jadi tidak muncul. Contohnya, jika ada seseorang yang melawak tetapi otak tidak meresponnya sebagai sesuatu yang lucu, maka suara tawa tidak akan muncul. Atau disaat otak merespon sesuatu yang lucu, namun alat ucap tidak sehat, suara tawa yang dihasilkan akan kurang sempurna, bahkan bisa menjadi aneh.

Satu fakta mengenai tertawa adalah sifatnya yang menular. Otak akan merespon setiap suara tawa yang kita dengar, respon ini lalu mengirimkan stimulus bagi otot wajah untuk menampilkan ekspresi kegembiraan. Alhasil, setiap mendengar orang tertawa kita juga akan ikut tertawa atau setidaknya tersenyum.

Selain menular, tertawa juga bersifat universal. Dimanapun kita berada, tertawa menjadi alat komunikasi yang dapat dimengerti semua orang, sebagai sebuah ungkapan kegembiraan. Tidak hanya saat melihat atau mendengar hal-hal lucu, perasaan malu dan bahagia pun terkadang dapat menjadi penyebab seseorang tertawa.  

Saat ini, kebiasaan tertawa dapat menjadi produk yang dapat dikomersilkan. Tertawa bisa menjadi komoditas berharga untuk mengisi kantong uang. Hampir semua stasiun televisi menayangkan acara komedi demi rating tinggi yang berimbas pada pendapatan iklan. Namun disayangkan, beberapa konsep yang ditawarkan pada acara-acara tersebut belum sepenuhnya mampu menampilkan lawakan yang segar nan cerdas.

Mayoritas tayangan komedi lebih banyak menawarkan jenis slapstick comedy, blue comedy dan insult comedy. Slapstick merupakan jenis lawakan fisik yang mudah dicerna dengan objek lawakan yang teraniaya dan menderita. Seperti memukul seseorang menggunakan sterofoam, menyiramkan tepung kepada objek derita, atau bahkan melempar pie ke wajahnya. Komedi jenis ini paling banyak  ditemui di layar kaca. Kita tahu bagaimana Andre OVJ mendorong jatuh Nunung OVJ ke tumpukan sterofoam dan penonton tertawa riuh melihatnya, padahal, mungkin saja Nunung menahan rasa sakit akibat jatuh di tengah tawa penonton. Kita juga sering melihat bagaimana Olga Syahputra menahan pundak Sapri, lalu tiba-tiba datang Raffi Ahmad menyiramkan tepung ke wajahnya dan tawa penonton pun terdengar renyah tanpa tahu perasaan terhina yang Sapri rasakan.

Selanjutnya, jenis Blue comedy. Blue Comedy adalah lawakan yang mengangkat tema seperti sex, libido, dan hal tabu lainnya. Sekarang banyak kita temui komedian yang “melencengkan” guyonan-guyonan yang sebenarnya memiliki makna tabu. Sebut saja Adjis Doa Ibu, comic yang memandu acara  stand up comedy bertema blue nite di Marley SCBD. Padahal mungkin saja acara tersebut diunggah ke Youtube dan ditonton jutaan orang termasuk anak-anak.

Yang terakhir Insult Comedy. Jenis lawakan ini merupakan lawakan dengan kualitas terburuk. Insult Comedy adalah komedi yang disajikan dengan cara menghina dan merendahkan objek lawakan. Kita ambil contoh lawakan Olga Syahputra yang menghina Minus dengan kata “Dodol Codet” atau “Botol Kecap” hanya karena perawakannya yang mirip orang Papua. Belum lagi hinaan Raffi kepada Olla Ramlan ketika mengucapkan “Eh, Janda dengerin tuh”. Entah apa yang menjadi kelucuan dari komedi celaan seperti ini.

Walau sebenarnya lelucon-lelucon tersebut tidak lagi pantas ditayangkan, namun program komedinya tetap mendapat rating yang tinggi. Ini menandakan masih banyak orang yang menonton dan menyukai lawakan jenis ini. Masih banyak orang yang suka tertawa melihat objek lawakan dianiaya, dihina, dan dipanggil dengan sebutan yang tidak pantas. Sangat menggelikan disaat zaman mulai maju dan pintar, kita masih tertawa untuk hal-hal yang primitif.

Akankah kita tetap memilih tertawa disaat orang menderita dan terhina? 

Ataukah mulai beralih mengkomsumsi humor yang cerdas dan mengakhiri zaman humor menjijikkan diatas?

        Bukankah tidak ada satu agama atau norma manapun yang mengajarkan untuk tertawa di atas penderitaan seseorang?

---------------------------------------------------------------------------------------------------

*abis baca, duduk-duduk di WC
"Gimana nduk, paham"

"hmm, masih ada yang mau ditanyain sih mbah. Tapi di list dulu deh"

"Yo weis lah, ntar kalau udah di list kabari mas mu ini bae."

"Sip mbah e."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ditunggu komentar, kritik, dan saran yang sopannya :)